MAKALAH
IPS
KEBUDAYAAN
SUKU BUGIS
DISUSUN
OLEH :
DYAH AYU
LESTARI
INTAN
SUCI ANANDA
LIA
SHOBARIYAH
MUDRIKAH
RATU
KETATON
SMK
NEGERI 12 JAKARTA
TAHUN
AJARAN 2014-2015
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “KEBUDAYAAN SUKU BUGIS ”
Makalah ini berisikan tentang informasi Kebudayaan Bugis atau yang lebih khususnya membahas 7 Unsur tentang Kebudayaan Bugis.
Diharapkan Makalah ini dapat
memberikan informasi kepada kita semua tentang Kebudayaan yang ada di Indonesia
.
Kami menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak
yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.
Jakarta Agustus, 2014
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bangsa Indonesia kaya akan keanekaragaman suku, agama, dan bahasa Kebudayaan adalah keseluruhan
kompleks yang meliputipengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat, dan
kemampuan sertakebiasaan yang dipunyai manusia sebagai anggota masyarakat.
Kebudayaanyang di hasilkan manusia sebagai wujud. Tradisi anggota masyarakat
berprilaku baik dalam kehidupan yang bersifat duniawi maupun terhadap hal-hal yang
bersifat gaib dan keagamaan.
Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu. Masuk keNusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang
berartiorang Bugis. Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan
Cina yangterdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketikarakyat La Sattumpugi menamakan
dirinya, maka mereka merujuk pada rajamereka. Di sampingsuku asli, orang-orang
Melayu dan Minangkabau yang merantau dariSumatera ke Sulawesi sejak abad ke-15
sebagai tenaga administrasi danpedagang di
kerajaan Gowa, juga dikategorikan sebagai orang Bugis.Berdasarkan sensus
penduduk tahun 2000, populasi orang Bugis sebanyak 6 juta jiwa.
Kini suku Bugis menyebar pula di propinsi Sulawesi Tenggara,Sulawesi Tengah,
Papua, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, bahkanhingga manca negara. Bugis merupakan salah satu suku yang taat dalammengamalkan
ajaran Islam. Semoga isi daripemaparan makalah ini dapat memberikan manfaat
bagi pembaca.
1.2 Rumusan Masalah
a.Dimana letak geografis dan
demografis suku Bugis ?
b.Bagaimana kebudayaan suku Bugis ?
b.Bagaimana kebudayaan suku Bugis ?
1.3Tujuan Penulisan
a.Mengetahui letak geografis dan
demografis suku Bugis
b.Mengetahui kebudayaan suku
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Keadaan Geografis dan Demografis
Orang Bugis
zaman dulu menganggap nenek moyang mereka adalahpribumi yang telah didatangi
titisan langsung dari dunia atas yang
turun (manurung) atau dari dunia bawah
yang naik (tompo) untuk membawanorma dan aturan sosial ke bumi
(Pelras, The Bugis, 2006).Umumnya orang-orang Bugis sangat meyakini akan hal to
manurung,tidak terjadi banyak perbedaan pendapat tentang sejarah ini. Sehingga
setiap orang yang merupakan etnis Bugis, tentu mengetahui asal-usul
keberadaankomunitasnya. Kata Bugis berasal dari kata to ugi, yang berarti orang
Bugis.Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina (bukan
negara Cina, tapi yang terdapat di jazirah Sulawesi Selatan tepatnya
KecamatanPammana Kabupaten Wajo saat ini) yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat
LaSattumpugi menamakan dirinya, mereka merujuk pada raja mereka.
Merekamenjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang/pengikut dari La
Sattumpugi.La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan
BataraLattu ayahanda dari Sawerigading.Sawerigading sendiri adalah suami dari
We Cudai dan melahirkanbeberapa anak, termasuk La Galigo yang membuat karya
sastra terbesar.Sawerigading Opunna Ware
(Yang Dipertuan Di Ware) adalah kisah yangtertuang dalam karya sastra La
Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. KisahSawerigading juga dikenal dalam
tradisi masyarakat Luwuk Banggai, Kaili,Gorontalo, dan beberapa tradisi lain di
Sulawesi seperti Buton.Sulawesi Selatan adalah sebuah provinsi di Indonesia,
yang terletak dibagian selatan Sulawesi. Ibu kotanya adalah Makassar, dahulu
disebut ''Ujungpandang''. Sampai dengan Juni 2006, jumlah penduduk di Sulawesi
Selatanterdaftar sebanyak 7.520.204 jiwa, dengan pembagian 3.602.000 laki-laki
dan 63.918.204 orang perempuan dan memiliki relief berupa jazirah-jazirah
yangpanjang serta pipih yang ditandai fakta bahwa tidak ada titik daratan yang
jauhnyamelebihi 90 km dari batas pantai. Kondisi yang demikian menjadikan
pulauSulawesi memiliki garis pantai yang panjang dan sebagian daratannya
bergunung-gunung.Provinsi Sulawesi
Selatan terletak di 0°12' - 8° Lintang Selatan dan116°48' - 122°36' Bujur
Timur. Luas wilayahnya 62.482,54 km². Provinsi iniberbatasan dengan Sulawesi
Tengah dan Sulawesi Barat di utara, Teluk Bone danSulawesi Tenggara di timur,
Selat Makassar di barat, dan Laut Flores di selatan.Kombinasi ini meghamparkan
alam yang mempesona dipandang baik daridaerah pesisir maupun daerah ketinggian.
Sekitar 30.000 tahun silam, pulauSulawesi telah dihuni oleh manusia.
Peninggalan peradaban di masa tersebutditemukan di gua-gua bukit kapur daerah
Maros kurang lebih 30 km dariMakassar, ibukota Propinsi Sulawesi Selatan.
Peninggalan prasejarah lainnyayang berupa alat batu peeble dan flake serta
fosil babi dan gajah yang telah punah,dikumpulkan dari teras sungai di Lembah
Wallanae, diantara Soppeng danSengkang, Sulawesi Selatan.Pada masa keemasan
perdagangan rempah-rempah di abad ke 15 sampaidengan
abad ke 19, Kerajaan Bone dan
Makassar yang perkasa berperan sebagaipintu gerbang ke pusat penghasil
rempah, Kepulauan Maluku. Sejarah itu telahmemantapkan opini bahwa Sulawesi
Selatan memiliki peran yang sangat strategisbagi
perkembangan Kawasan Timur Indonesia.Penduduk Sulawesi Selatan terdiri
atas empat suku utama yaitu Toraja,Bugis, Makassar, dan Mandar. Suku Toraja
terkenal memiliki keunikan tradisiyang tampak pada upacara kematian, rumah
tradisional yang beratap melengkungdan ukiran cantik dengan warna natural.
Sedangkan suku Bugis, Makassar danMandar terkenal sebagai pelaut yang
patriotik. Dengan perahu layartradisionalnya, Pinisi, mereka menjelajah sampai
ke utara Australia, beberapapulau di Samudra Pasifik, bahkan sampai ke pantai
Afrika.Hasil penelitian sejarahwan Australia Utara bernama Peter G. Spillet
M,mengungkapkan salah satu fakta yang tidak terbantahkan bahwa orang Sulawesi
7Selatanlah yang pertama mendarat di Australia dan bukannya Abel
Tasman(Belanda) atau James Cook (Inggris) tahun 1642. Upaya pelurusan fakta
sejarahtersebut dilakukan Peter yang kemudian dijuluki Daeng Makulle dengan
sangathati-hati melalui jejak, buku-buku sejarah berupa hubungan orang
Makassardengan orang Aborigin (Merege). Orang Makassar tiba di sana
denganmenggunakan transportasi perahu.
2.2 Teknologi dan Peralatan Hidup
Dengan
terciptanya peralatan untuk hidup yang berbeda, maka secaraperlahan tapi pasti,
tatanan kehidupan perorangan, dilanjutkan berkelompok,kemudian membentuk sebuah
masyarakat, akan penataannya bertumpu pada sifat-sifat peralatan untuk hidup tersebut.
Peralatan hidup ini dapat pula disebut sebagaihasil manusia dalam mencipta.
Dengan bahasa umum, hasil ciptaan yang berupaperalatan fisik disebut teknologi
dan proses penciptaannya dikatakan ilmupengetahuan dibidang teknik. Sejak
dahulu, suku Bugis di Sulawesi Selatan terkenal sebagai pelautyang ulung.
Mereka sangat piawai dalam mengarungi lautan dan samudera luashingga ke berbagai kawasan di Nusantara dengan
menggunakan perahu Pinisi.
1.Perahu Pinisi
Perahu
Pinisi termasuk alat transportasi laut tradisional masyarakat Bugisyang sudah
terkenal sejak berabad-abad yang lalu. Menurut cerita di dalamnaskah Lontarak I Babad La Lagaligo, Perahu
Pinisi sudah ada sekitar abad ke-14M. Menurut naskah tersebut, Perahu
Pinisi pertama kali dibuat olehSawerigading, Putra Mahkota Kerajaan Luwu. Bahan
untuk membuat perahu tersebut diambil dari pohon welengreng (pohon dewata) yang
terkenal sangatkokoh dan tidak mudah rapuh. Namun, sebelum pohon itu ditebang,
terlebihdahulu dilaksanakan upacara khusus
agar penunggunya bersedia pindah ke pohon lainnya. Sawerigading membuat
perahu tersebut untuk berlayar menuju negeriTiongkok
hendak meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai.
Singkat cerita, Sawerigading
berhasil memperistri Puteri We Cudai.Setelah beberapa lama tinggal di Tiongkok,
Sawerigading rindu kepada kampunghalamannya. Dengan menggunakan perahunya yang
dulu, ia berlayar ke Luwu.Namun, ketika perahunya akan memasuki pantai Luwu,
tiba-tiba gelombangbesar menghantam perahunya hingga pecah. Pecahan-pecahan
perahunyaterdampar ke 3 (tiga) tempat di wilayah Kabupaten Bulukumba, yaitu
diKelurahan Ara, Tana Beru, dan Lemo-lemo. Oleh masyarakat dari ketigakelurahan
tersebut, bagian-bagian perahu itu kemudian dirakit kembali menjadisebuah perahu yang megah dan dinamakan Perahu
Pinisi.Hingga saat ini, Kabupaten Bulukumba masih dikenal sebagai
produsenPerahu Pinisi, dimana para pengrajinnya tetap mempertahankan tradisi
dalampembuatan perahu tersebut, terutama di Keluharan Tana Beru.
2.Sepeda Dan Bendi
Sepeda ataupun
Dokar, koleksi Perangkat pertanian Tadisional ini adalahbukti sejarah peradaban
bahwa sejak jaman dahulu bangsa indonesia khususnyamasyarakat Sulawesi Selatan
telah dikenali sebagai masyarakat yang bercocok tanam. Mereka
menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian terutamatanaman padi sebagai bahan makanan pokok.
3.Koleksi peralatan menempa besi dan hasilnya
Jika anda
ingin mengenali lebih jauh tentang sisi lain dari kehidupan masalampau
masyarakat Sulawesi Selatan, maka anda dapat mengkajinya melaluikoleksi
trdisional menempa besi, Hasil tempaan berupa berbagai jenis senjatatajam, baik
untuk penggunan sehari - hari maupun untuk perlengkapan upacaraadat.
4.Koleksi Peralatan Tenun Tradisional
Dari koleksi Peralatan Tenun
Tradisional ini, dapat diketahui bahwabudaya menenun di Sulawesi Selatan
diperkirakan berawal dari jaman prasejarah,yakni ditemukan berbagai jenis benda
peninggalan kebudayaan dibeberapa daerahseperti leang - leang kabupaten maros
yang diperkirakan sebagai pendukungpembuat pakaian dari kulit kayu dan serat -
serat tumbuhan-tumbuhan. Ketikapengetahuan manusia pada zaman itu mulai
Berkembang mereka menemukan carayang lebih baik yakni alat pemintal tenun
dangan bahan baku benang kapas. Darisinilah mulai tercipta berbagai jenis corak
kain saung dan pakaian tradisional.
5.Rumah adat
Rumah bugis memiliki keunikan
tersendiri, dibandingkan dengan rumahpanggung dari suku yang lain ( Sumatera
dan Kalimantan ). Bentuknya biasanyamemanjang
ke belakang, dengan tanbahan disamping bangunan utama dan bagiandepan, orang
bugis menyebutnya lego .
Berikut adalah bagian-bagian utamanya :
1.Tiang utama ( alliri ). Biasanya
terdiri dari 4 batang setiap barisnya. jumlahnya tergantung jumlah ruangan
yang akan dibuat. tetapi padaumumnya, terdiri dari 3 / 4 baris alliri. Jadi
totalnya ada 12 batang alliri.
2. Fadongko’, yaitu bagian yang
bertugas sebagai penyambung dari alliri di setiap barisnya.3. Fattoppo, yaitu
bagian yang bertugas sebagai pengait paling atas dari alliripaling tengah tiap
barisnya.Mengapa orang bugis suka dengan arsitektur rumah yang memiliki kolong
Konon, orang bugis, jauh sebelum
islam masuk ke tanah bugis ( tana ugi’ ), orang bugis memiliki kepercayaan
bahwa alam semesta ini terdiri atas 3 bagian,bagian atas ( botting langi ),
bagian tengah ( alang tengnga ) dan bagian bawah (paratiwi ). Mungkin itulah
yang mengilhami orang bugis ( terutama yang tinggaldi kampung ) lebih suka
dengan arsitektur rumah yang tinggi
Bagian bagian dari rumah bugis ini sebagai
berikut :
1. Rakkeang, adalah bagian diatas
langit langit ( eternit ). Dahulu biasanyadigunakan untuk menyimpan padi yang
baru di panen.
2. Ale Bola, adalah bagian tengah rumah. dimana kita tinggal. Pada ale bola
2. Ale Bola, adalah bagian tengah rumah. dimana kita tinggal. Pada ale bola
ini, ada titik sentral yang bernama
pusat rumah ( posi’ bola ).
3. Awa bola, adalah bagian di bawah
rumah, antara lantai rumah dengantanah.Yang
lebih menarik sebenarnya dari rumah bugis ini adalah bahwa rumah inidapat
berdiri bahkan tanpa perlu satu paku pun. Semuanya murni menggunakankayu. Dan
uniknya lagi adalah rumah ini dapat di angkat / dipindah.
2.3 Sistem Mata Pencaharian
Wilayah
Suku Bugis terletak di dataran rendah dan pesisir pulau Sulawesibagian selatan.
Di dataran ini, mempunyai tanah yang cukup subur, sehinggabanyak masyarakat
Bugis yang hidup sebagai petani. Selain sebagai petani, SukuBugis juga di kenal
sebagai masyarakat nelayan dan pedagang. Meskipun merekamempunyai tanah yang
subur dan cocok untuk bercocok tanam, namun sebagianbesar masyarakat mereka
adalah pelaut.Suku Bugis mencari kehidupan dan mempertahankan hidup dari
laut.Tidak sedikit masyarakat Bugis yang merantau sampai ke seluruh negeri
denganmenggunakan Perahu Pinisi-nya. Bahkan, kepiawaian suku Bugis dalam mengarungi samudra
cukup dikenal luas hingga luar
negeri, di antara wilayahperantauan mereka, seperti Malaysia, Filipina, Brunei, Thailand, Australia, Madagaskardan Afrika Selatan. Suku Bugis memang terkenal sebagai suku yanghidup merantau. Beberapa dari mereka, lebih suka
berkeliaran untuk berdagangdan mencoba melangsungkan hidup di tanah orang lain.
Hal ini juga disebabkanoleh faktor sejarah orang Bugis itu sendiri di masa
lalu.
2.4 Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial
Suku
Bugis merupakan suku yang menganut sistem patron klien atausistem kelompok kesetiakawanan
antara pemimpin dan pengikutnya yang bersifat menyeluruh. Salah satu sistem
hierarki yang sangat kaku dan rumit. Namun,mereka mempunyai mobilitas yang
sangat tinggi, buktinya dimana kita berada tak sulit berjumpa dengan
manusia Bugis. Mereka terkenal berkarakter keras dansangat menjunjung tinggi
kehormatan, pekerja keras demi kehormatan namakeluarga.
Sedangkan
untuk kekerabatan keluarga mereka menganut system cognaticatau bilateral,
seseorang ditelusuri melalui garis keturunan ayah dan juga ibu. Panggilan yang
biasa untuk kerabat mereka adalah kaka’(saudara yang lebih tua)dan
Anri’(saudara yang lebih muda). Amure’(paman) dan Inure’(bibi). Masih banyak
lagi sebutan dalam system kekerabatan mereka yang lainnya.
Adat Pernikahan.
Dalam sistem perkawinan adat Bugis terdapat perkawinan ideal:
1. Assialang MaolaIalah perkawinan
antara saudara sepupu derajat kesatu, baik dari pihak ayah maupun ibu.
2. Assialanna MemangIalah perkawinan
antara saudara sepupu derajat kedua, baik dari pihak ayah maupun ibu.
3. Ripaddeppe belaeIalah perkawinan antara
saudara sepupu derajat ketiga, baik dari pihak ayah maupun ibu atau masih mempunyai hubungan keluarga.
Adapun perkawinan perkawinan
yang dilarang dan dianggap sumbang(salimara):
1. perkawinan antara anak dengan ibu / ayah
2. perkawinan antara saudara
sekandung
3. perkawinan antara menantu dan
mertua
4. perkawinan antara paman / bibi
dengan kemenakan
5. perkawinan
antara kakek / nenek dengan cucuTahap
Tahap dalam perkawinan secara adat :
1. Lettu ( lamaran) Ialah kunjungan
keluarga si laki-laki ke calon mempelai perempuan untuk menyampaikan
keinginannya untu melamar calon mempelai perempuan.
2. Mappettuada. (kesepakatan
pernikahan) Ialah kunjungan dari pihak laki-laki ke pihak perempuan
untuk membicarakan waktu pernikahan,jenis sunrang atau mas kawin,balanja
atau belanja perkawinan penyelanggaran pesta dan sebagainya
3. Madduppa
(Mengundang) Ialah
kegiatan yang dilakukan setelah tercapainya kesepakayan antar keduabelah pihak
untuk memberi tahu kepada semua kaum kerabat mengenai perkawinan yang akan dilaksanakan
.4. Mappaccing (Pembersihan) Ialah
ritual yang dilakukan masyarakat bugis (Biasanya hanya dilakukan oleh kaum bangsawan), Ritrual ini dilakukan pada
malam sebelum akad nikah dimulai,dengan
mengundang para kerabat dekat sesepuh dan orang yang dihormati untuk
melaksanakan ritual ini, cara pelaksanaan nya dengan menggunakandaun
pacci (daun pacar),kemudian para undangan di persilahkan untuk memberiberkah
dan doa restu kepada calon mempelai, konon bertujuan untuk membersihkan
dosa calon mempelai, dilanjutkan dengan sungkeman kepada kedua orang tua calon
mempelai Pasangan Pengantin
Hari
pernikahan dimulai dengan mappaendre balanja , ialah prosesi dari mempelai
laki-laki disertai rombongan dari kaum kerabat, pria-wanita, tua-muda,dengan
membawa macam-macam makanan, pakaian wanita, dan mas-kawin kerumah mempelai
wanita. Sampai di rumah mempelai wanita langsung diadakan upacara pernikahan, dilanjutkan
dengan akad nikah. Pada pesta itu biasa para tamumemberikan kado tau paksolo
setelah akad nikah dan pesta pernikahan dirumah mempelai wanita selesai
dilalanjutkan dengan acara mapparola yaitu mengantar
mempelai wanita ke rumah mempelai laki-laki mappaenre botting
Beberapa
hari setelah pernikahan para pengantin baru mendatangi keluarga mempelai
laki-laki dan keluarga mempelai wanita untuk bersilaturahim dengan memberikan
sesuatu yang biasanya sarung sebagai simbol perkenalan terhadapkeluarga baru.
Setelah itu, baru kedua mempelai menempati rumah mereka sendiri yang disebut
nalaoanni alena.
Sistem
organisasi sosial yang terdapat di suku Bugis cukup menarik untuk diketahui. Yaitu, kedudukan kaum perempuan yang
tidak selalu di bawah kekuasaan kaum laki-laki, bahkan di organisasi
sosial yang berbadan hukum sekalipun. Karena Suku Bugis adalah salah satu suku
di Nusantara yang menjunjung tinggi hak-hak Perempuan. Sejak zaman dahulu,
perempuan di sukuBugis sudah banyak yang
berkecimpung di bidang politik setempat.Jadi, banyak perempuan Bugis
yang berani tampil di muka umum, mereka aktif dalam semua bidang kehidupan,
menjadi pendamping pria dalam diskusiurusan publik, tak jarang pula mereka
menduduki tahta tertinggi di kerajaan.Misalnya Raja Lipukasi pada tahun 1814
dipimpin oleh seorang perempuan.Sampai perang kemerdekaan pun, perempuan tetap
berperan aktif dalam medanlaga.
Namun di
lain hal, pepatah Bugis mengatakan,”Wilayah perempuan adalah sekitar rumah
sedangkan ruang gerak laki-laki menjulang hingga kelangit”. Artinya, laki-laki
lah yang berkewajiban menafkahi keluarga dengansekuat tenaga. Jadi kedudukan kaum perempuan yang derajatnya hampirdisamakan
dengan derajat laki-laki dalam sistem organisasi sosial, bukan berartikaum
perempuan wajib untuk mencari nafkah bagi keluarganya melainkanseorang
laki-laki lah yang wajib bekerja keras untuk menghidupi keluarganya.
Hukum Adat
Di Sidrap pernah hidup seorang Tokoh Cendikiawan Bugis yang cukupterkenal pada masa Addatuang
Sidenreng dan Addatuang Rappang (Addatuang =semacam pemerintahan distrik di
masa lalu) yang bernama Nenek Mallomo. Dia bukan berasal dari kalangan keluarga
istana, akan tetapi kepandaiannya dalamtata hukum negara dan pemerintahan
membuat namanya cukup tersohor. Sebuahtatanan hukum yang sampai saat ini masih
diabadikan di Sidenreng yaitu: NaiyaAde’e De ’nakkeambo, de ’to nakkeana.
(Terjemahan : sesungguhnya ADAT itu tidak mengenal Bapak dan tidak mengenal
Anak). Kata bijaksana itudikeluarkan Nenek Mallomo.
Suku Bugis
adalah suku yang sangat menjunjungtinggi harga diri dan martabat. Suku ini
sangat menghindari tindakan-tindakanyang mengakibatkan turunnya harga diri atau
martabat seseorang. Jika seoranganggota keluarga melakukan tindakan yang
membuat malu keluarga, maka ia akandiusir atau dibunuh. Namun, adat ini sudah
luntur di zaman sekarang ini. Tidak ada lagi keluarga yang tega membunuh
anggota keluarganya hanya karena tidak ingin menanggung malu dan tentunya
melanggar hukum. Sedangkan adat malumasih dijunjung oleh masyarakat Bugis
kebanyakan.Walaupun tidak seketat dulu, tapi setidaknya masih diingat
dandipatuhiketika dipanggil oleh Raja untuk memutuskan hukuman kepada
puteraNenek Mallomo yang mencuri peralatan bajak tetangga sawahnya.
DalamLontara
’La Toa, Nenek Mallomo ’disepadankan dengan tokoh-tokoh Bugis-Makassar lainnya,
seperti I Lagaligo, Puang Rimaggalatung, Kajao Laliddo, dansebagainya.
Keberhasilan panen padi di Sidenreng karena ketegasan Nenek Mallomo dalam
menjalankan hukum, hal ini terlihat dalam budaya masyarakatsetempat dalam
menentukan masa tanam melalui musyawarah yang disebutTUDANG SIPULUNG (Tudang =
Duduk, Sipulung = Berkumpul atau dapatditerjemahkan sebagai suatu Musyawarah
Besar) yang dihadiri oleh paraPallontara’
(ahli mengenai buku Lontara’) dan tokoh-tokoh masyarakat adat.Melihat
keberhasilan TUDANG SIPULUNG yang pada mulanya diprakarsai olehBupati kedua,
Bapak Kolonel Arifin Nu’mang sebelum tahun 1980, daerah-daerah lain pun sudah menerapkannya.
Sistem Kemasyarakatan
Salah satu
sumber yang dipakai untuk melakukan rekonstruksi adalah kesusasteraan
Bugis-Makasar asli La Galigo.
Menurut Friedericy ada tiga lapisan pokok
Yaitu :
(1) Anakarung ialah lapisan kaum
raja
(2)To-maradeka lapisan orang merdeka
yang merupakan sebagian besar masyarakat Sulawesi Selatan.
(3) Ata ialah lapisan orang budak.
2.5 Bahasa
Bahasa Bugis adalah bahasa yang digunakan etnik Bugis di SulawesiSelatan, yang tersebar di kabupaten
sebahagian Kabupaten Maros, sebahagianKabupaten Pangkep, Kabupaten Barru, Kota
Pare-pare, Kabupaten Pinrang,sebahagian
kabupaten Enrekang, sebahagian kabupaten Majene, KabupatenLuwu,
Kabupaten Sidenrengrappang, Kabupaten Soppeng,Kabupaten Wajo,Kabupaten Bone,
Kabupaten Sinjai, Kabupaten Bulukumba, dan KabupatenBantaeng. Masyarakat Bugis
memiliki penulisan tradisional memakai aksaraLontara. Pada dasarnya, suku kaum
ini kebanyakannya beragama Islam Dari segiaspek
budaya.Etnik Bugis mempunyai bahasa tersendiri dikenali sebagai Bahasa
Bugis(Juga dikenali sebagai Ugi). Konsonan di dalam Ugi pula di kenali sebagaiLontara yang berdasarkan tulisan Brahmi. Orang Bugis
mengucapkan bahasa Ugi dan telah memiliki kesusasteraan tertulis sejak
berabad-abad lamanya dalam bentuk lontar. Huruf yang dipakai adalah aksara
lontara, sebuah sistem huruf yang berasal dari Sanskerta. Seperti halnya dengan
wujud-wujud kebudayaan lainnya. Penciptaantulisan pun diciptakan karena adanya
kebutuhan manusia untuk mengabdikanhasil-hasil pemikiran mereka.
Menurut
Coulmas, pada awalnya tulisan diciptakan untuk mencatatkanfirman-firman tuhan,
karena itu tulisan disakralkan dan dirahasiakan. Namundalam perjalanan waktu
dengan berbagai kompleksitas kehidupan yang dihadapioleh manusia, maka
pemikiran manusia pun mengalami perkembangan demikianpula dengan tulisan yang
dijadikan salah satu jalan keluar untuk memecahkan problem manusia secara umumnya.
Seperti yang dikatakan oleh Coulmas “a kin gof social problem solving, and any
writing system as the comman solution of a number of related problem” (1989:15)
1.Alat Untuk Pengingat
2. Memperluas jarak komunikasi
3. Sarana
Untuk memindahkan Pesan Untuk Masa Yang akan dating
4. Sebagai Sistem Sosial Kontrol
5. Sebagai Media Interaksi
6. Sebagai Fungsi
estetik Lontara Bugis-Makassar
merupakan
sebuah huruf yang sakral bagimasyarakat
bugis klasik. Itu dikarenakan epos la galigo di tulis menggunakanhuruf
lontara. Huruf lontara tidak hanya digunakan oleh masyarakat bugis tetapihuruf
lontara juga digunakan oleh masyarakat makassar dan masyarakat luwu.Kala para
penyair-penyair bugis menuangkan fikiran dan hatinya di atas daunlontara dan
dihiasi dengan huruf-huruf yang begitu cantik sehingga tersusun katayang apik
diatas daun lontara dan karya-karya itu bernama I La Galigo.Begitu pula yang
terjadi pada kebudayaan di Indonesia. Ada beberapasuku bangsa yang memiliki huruf antara lain. Budaya Jawa, Budaya Sunda,Budaya
Bali, Budaya Batak, Budaya Rejang, Budaya Melayu, Budaya Bugis DanBudaya
Makassar.Disulawesi selatan ada 3 betuk macam huruf yang pernah dipakai
secarabersamaan.1. Huruf Lontara2.
Huruf Jangang-Jangang3. Huruf Seran Sementara bila ditempatkan dalam kebudayaan
bugis, Lontaraqmempunyai dua pngertian yang terkandung didalamnyaa. Lontaraq
sebagai sejarah dan ilmu pengetahuanb. Lontaraq sebagai tulisanKata lontaraq
berasal dari Bahasa Bugis/Makassar yang berarti daunlontar. Kenapa disebuat
sebagai lontaran ?, karena pada awalnya tulisan tersebutdi tuliskan diatas daun
lontar. Daun lontar ini kira-kira memiliki lebar 1 cmsedangkan panjangnya
tergantung dari cerita yang dituliskan. Tiap-tiap daunlontar disambungkan
dengan memakai benang lalu digulung pada jepitan kayu,yang bentuknya mirip
gulungan pita kaset. Cara membacanya dari kiri kekanan.Aksara lontara biasa
juga disebut dengan aksara sulapaq eppaqKarakter huruf bugis ini diambil dari
Aksara Pallawa (Rekonstruksi aksaradunia yang dibuat oleh Kridalaksana).
Silsilah Aksara Dunia
Memang
terdapat bebrapa varian bantuk huruf bugis di sulawesi selatan,tetapi itu
tidaklah berarti bahwa esensi dasar dari huruf bugis ini hilang, dan itu biasa
dalam setiap aksara didunia ini. Hanya ada perubahan dan penambahan sedikit
yang sama sekali tidak menyimpang dari bentuk dasar dari aksara tersebut.Varian
itu disebabkan antara lain
1. Penyesuaian antara bahasa dan bunyian yang diwakilinya
2. Penyesuaian antara bentuk huruf dan sarana yang digunakan.
2.6 Kesenian
Alat musik
1.Kacapi(kecapi)Salah satu alat
musik petik tradisional Sulawesi Selatan khususnya sukuBugis, Bugis Makassar
dan Bugis Mandar. Menurut sejarahnya kecapi ditemukanatau diciptakan oleh
seorang pelaut, sehingga bentuknya menyerupai perahu yang memiliki dua
dawai,diambil karena penemuannya dari tali layarperahu.Biasanya ditampilkan
pada acara penjemputan para tamu,perkawinan,hajatan, bahkan hiburan pada hari
ulang tahun.
2. Sinrili Alat musik yang
mernyerupai biaola cuman kalau biola di mainkandengan membaringkan di pundak
sedang singrili di mainkan dalam keedaanpemain duduk dan alat diletakkan tegak
di depan pemainnya.
3. Gendang Musik
perkusi yang mempunyai dua bentuk dasar yakni bulat panjang danbundarseperti rebana.
4. SulingSuling bambu/buluh, terdiri
dari tiga jenis, yaitu:
•Suling panjang (suling lampe),
memiliki 5 lubang nada. Suling jenis ini telahpunah.
•Suling calabai (Suling
ponco),sering dipadukan dengan piola (biola) kecapidan dimainkan bersama penyanyi
•Suling dupa samping (musik bambu),
musik bambu masih terplihara didaerahKecamatan Lembang. Biasanya digunakan pada
acara karnaval (barisberbaris) atau acara penjemputan tamu.
Seni Tari
•Tari pelangi; tarian pabbakkanna
lajina atau biasa disebut tari meminta hujan.
•Tari Paduppa Bosara; tarian yang
mengambarkan bahwa orang Bugis jika kedatangan tamu senantiasa
menghidangkan bosara, sebagai tandakesyukuran dan kehormatan
•Tari Pattennung; tarian adat yang
menggambarkan perempuan-perempuanyang
sedang menenun benang menjadi kain. Melambangkan kesabaran danketekunan
perempuan-perempuan Bugis.
•Tari Pajoge dan Tari Anak Masari;
tarian ini dilakukan oleh calabai(waria), namun jenis tarian ini sulit sekali
ditemukan bahkan dikategorikan telahpunah.
•Jenis tarian yang lain adalah tari Pangayo,
tari Passassa ,tari Pa’galung, dantari
Pabbatte (biasanya di gelar padasaat Pesta Panen).
Makanan Khas Sulawesi Selatan
1. Coto
Makassar
2. Konro
3. Sop Saudara
4. Pisang Epe
5. Pisang Ijo
6. Palu Bassah
7. Pala Butung
8. Nasu
Palekko (Bebek)
Permainan
Beberapa permainan khas yang sering
dijumpai di masyarakat Bugis ( Pinrang):Mallogo, Mappadendang, Ma’gasing,
Mattoajang (ayunan), getong-getong,Marraga, Mappasajang (layang-layang),
Malonggak
Senjata Suku Bugis
KAWALI senjata khas suku bugis
2.7 Sistem Kepercayaan
Sejak
dahulu, masyarakat Sulawesi Selatan telah memiliki aturan tatahidup. Aturan
tata hidup tersebut berkenaan dengan, sistem pemerintahan, sistemkemasyarakatan
dan sistem kepecayaan. Orang Bugis menyebut keseluruhansistem tersebut
Pangngadereng, orang Makassar Pangadakang, Orang Luwumenyebutnya Pangngadaran,
Orang Toraja Aluk To Dolo dan Orang Mandar
Ada’
Dalam hal
kepercayaan penduduk Sulawesi Selatan telah percaya kepadasatu Dewa yang
tunggal. Dewa yang tunggal itu disebut dengan istilah Dewata SeuwaE (dewa yang
tunggal). Terkadang pula disebut oleh orang Bugis denganistilah PatotoE (dewa
yang menentukan nasib). Orang Makassar sering menyebutnya
dengan Turei A’rana(kehendak yang tinggi). Orang Mandar Puang Mase (yang maha kedendak) dan orang
Toraja menyebutnya Puang Matua (Tuhanyang maha mulia). Mereka pula mempercayai
adanya dewa yang bertahta di tempat-tempattertentu. Seperti kepercayaan mereka
tentang dewa yang berdiam di GunungLatimojong. Dewa tersebut mereka sebut
dengan nama Dewata Mattanrue.Dihikayatkan bahwa dewa tersebut kawin dengan Enyi’li’timo’ kemudianmelahirkan PatotoE. Dewa PatotoE
kemudian kawin dengan Palingo dan melahirkan Batara Guru.Batara Guru dipercaya
oleh sebagian masyarakat Sulawesi Selatan sebagaidewa penjajah. Ia telah
menjelajahi seluruh kawasan Asia dan bermarkas dipuncak Himalaya. Kira-kira
satu abad sebelum Masehi Batara Guru menuju keCerekang Malili dan membawa empat
kasta. Keempat kasta tersebut adalah kastaPuang,
kasta Pampawa Opu, kasta Attana Lang, dan kasta orang kebanyakan.Religi
suku Bugis dan Makassar pada zaman pra islam adalah sure galigo,sebenarnya
keyakinan ini telah mengandung suatu kepercayaan pada satu dewatunggal, biasa
disebut patoto e (dia yang menentukan nasib), dewata seuwae(tuhan tunggal),
turie a rana (kehendak yang tertinggi). Sisa kepercayaan inimasih tampak jelas
pada orang To latang dikabupaten Sidenreng Rappang danorang Amma Towa di Kajang kabupaten Bulukumba.
Saat agama
islam masuk ke Sulawesi Selatan pada awal ke-17, ajaranagama islam mudah
diterima masyarakat. Karena sejak dulu mereka telah percayapada dewa tunggal. Proses penyebaran islam
dipercepat dengan adanya kontak terus menerus antara masyarakat
setempat dengan para pedagang melayu islamyang telah menetap di Makassar. Pada
abad ke-20 karena banyak gerakan-gerakan pemurnian ajaran islam seperti
Muhammadiyah, maka ada kecondongan untuk menganggap banyak bagian-bagian
dari panngaderreng itu sebagai syirik, tindakan yang taik sesuaidengan ajaran
Islam, dan karena itu sebaiknya ditinggalkan. Demikian Islam diSulawesi Selatan
telah juga mengalami proses pemurnian.Sekitar 90% dari penduduk Sulawesi
Selatan adalah pemeluk agamaIslam, sedangkan hanya 10% memeluk agama Kristen
Protestan atau Katolik.Umat Kristen atau Katolik umumnya terdiri dari
pendatang-pendatang orangMaluku, Minahasa, dan lain-lain atau dari orang
Toraja. Mereka ini tinggal dikota-kota terutama di Makassar.
2.8 Pendidikan
Sampai tahun
1965, karena keadaan kekacauan terus menerus sejak zamanJepang, zaman Revolusi,
dan zaman pemberontakan Kahar Muzakkar, makaperkembangan pendidikan di Sulawesi
Selatan amat terbelakang kalaudibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.
Walaupun demikian di kota-kota,usaha memajukan pendidikan berjalan juga dan
sesudah pemulihan kembalikeadaan aman, maka disamping rehabilitasi dalam
sektor-sektor ekonomi, saranadan kehidupan kemasyarakatan pada umumnya, usaha
dari lapangan pendidikanmendapat perhatian
yang khusus.Masyarakat Bugis-Makassar mempunyai jenjang pendidikan mulai
dari :PAUD, SD/MI, SMP/Mts, SMA/SMK/MA, Universitas, Pesantren/organisasikeagamaan terutama di daerah pesisir.
3.2 Saran
Sebagai salah satuwarisan budaya
nusantara, sudah menjadi kewajibankita
untuk merawat dan melestarikan kebudayaan suku bugis, dengan caramenghormati
dan menghargai mereka, penyaringan budaya luar, tumbuhkankecintaan sejak dini
terhadap budaya lokal.
terima kasih kak, sangat membantu
BalasHapus